Muqao (baca; mukow) namanya, remaja yang kini beranjak dewasa. Kelas 2 SMU sekarang. Dia bukan keturunan Jepang walau namanya agak mirip orang-orang negeri Sakura itu. Aku salut dengan Kepribadiannya yang teguh walau mungkin tak seteguh karang. Ambisinya dalam belajar membuatku pantas mengacungkan dua ibu jari plus dua ibu jari kaki…. ;p “Rijalul Ghad” Seorang laki-laki masa depan. Hmmmm…

Aku ingat saat pertama kali dia menginjakkan kakinya di asrama putra, waktu itu Muqao baru duduk di bangku SMP kelas 1, sedangkan aku kelas 2 SMU, senioritas membuat aku dan rekan-rekan lain dapat penghormatan lebih walau kita tidak gila kehormatan. Saat itu Muqao masih ingusan, polos, lugu dan jujur. Sering kami kerjain, tapi kepolosan dan kejujurannya membuat kami menyayangi Muqao kecil. Perawakannya memang paling kecil diantara teman-teman sebayanya.

Pagi itu, seperti pagi-pagi lainnya, aku “membangunkan” si Maghrib, vespa kesayanganku, menyalakan mesinnya sekedar untuk membuatnya agar sedikit panas, biar nanti saat aku berangkat kerja dia tidak ngadat. Maklum motor antiq sudah terlalu tua untuk berpacu di area lalulintas padat kota kembang ini.

Muqao menghampiriku dengan seragam putih abunya. Menyapa dan menanyakan kabar si Maghrib, aku hanya tersenyum simpul. Karena kesibukanku aku tak pernah memperhatikan Muqao lagi, tidak seperti dulu. “Kang, ntar malam ada acara nggak? Kalo nggak ada, Muqao ada perlu, mo ngobrol ma akang, mo curhat kang!” Muqao memang terbiasa dengan menyebut namanya sendiri saat bicara, tidak pernah menyebut “saya” ada perlu atau “aku” ada perlu, polos dengan menyebut nama sendiri, “Muqao” ada perlu. Belum berubah; polos dan lugu.

Malampun tiba, sekitar jam 8 malam muqao mengetuk pintu saat aku tengah asyik posting dan ngeupdate blogku di blogspot dan friendster. Dia mengambil kursi dan duduk disampingku, sementara pandanganku tidak terusik sedikitpun dari monitor laptop komputer.

Dia mulai bercerita kesana kemari; tentang pelajaran, pergaulan, teman-teman dikelas, sampai guru-guru yang membuatnya bete. Sekian lama dia bicara akhirnya dia sadar bahwa aku tidak memperhatikan pembicaraannya (kejamnya dirikuh).

Dia mulai mengambil perhatianku saat dia menyebut nama Ilasa, cinta pertama yang pernah bersemayam dalam jiwa (otok2). Muqao bercerita saat2 aku bersama Ilasa. Rupanya anak ini memperhatikan aku dulu saat jalan ma gadis asal purwakarta itu. “Kang ingat! Muqao ga kenal ma teteh (begitu muqao menyebut Ilasa) sampai akhirnya akang yang mengenalkan muqao, dan muqao senang sekali saat teteh menganggap muqao adiknya sendiri waktu itu. Mungkin karna muqao pernah mengatakan ma teteh bahwa akang kakak angkat muqao.”

“Muqao ingat waktu itu akang dan teteh kelas 2 kan! Dan sekarang tanpa muqao sadari muqao sudah kelas 2 kang, dan…. muqao seperti akang waktu itu, muqao juga sekarang udah menemukan yang muqao sayangi. Seperi akang menyayangi teteh waktu itu. Muqao…”

Bersambung…