Di Sisinya Selalu Ada Cinta
Artikel October 3rd, 2006Pagi yang cerah
selalu membuatku bergairah menapakkan kaki di aspal hitam yang masih
tampak basah. Merentas jeruji cahaya mentari yang masih malu menembus
putihnya awan, bertemankan canda mesra kupu-kupu beraneka warna dan bunga-bunga yang merekah. Megahnya simfoni alam yang
melantunkan senandung tasbih dan tahmid dari tetesan sisa-sisa embun di
tanah, seakan menambah pesona pagi yang indah.
Di jalanan juga tampak banyak orang yang dengan penuh semangat berolah
raga. Ada yang hanya berjalan santai menghirup udara segar, ada pula
yang berlari-lari kecil dan tak sedikit yang terlihat menuntun
anjingnya yang bergerak lincah kesana kemari. Wajah-wajah mereka
terlihat segar dielus lembut sinar mentari pagi, padahal beberapa di
antaranya tampak tidak lagi berusia muda, terlihat dari guratan-guratan
keriput di wajah.
Tampak dari kejauhan dua sosok manusia berjalan ke arahku, "Selalu
mereka," aku bergumam dalam hati. Semakin dekat, semakin terdengar
nafas yang terengah-engah dan terlihat simbahan peluh yang mengucur
membasahi sekujur tubuh mereka.
"Ohayou gozaimasu," Selamat pagi, sapa obachan (wanita paruh baya) itu ramah seraya sedikit membungkukkan tubuhnya.
Di sampingnya, anak lelaki yang berkepala besar dan berperawakan pendek
itu juga terdengar menyapa, namun dengan suara tak jelas. Terlihat dari
raut wajahnya ia berbeda dengan anak yang umurnya sebaya. Wajah itu
berhiaskan mata yang sipit dan turun, dagu yang kecil membuat lidah
terlihat menonjol keluar serta lebar tengkorak tampak pendek di
kepalanya yang dicukur botak. Jelasnya dia seorang anak yang terbelakang. Sungguh kasihan.
Sekali-kali tangan lebar dengan jari-jari pendek itu susah payah
menyeka wajahnya dengan handuk kecil, tampak koordinasi gerakan
tangannya lemah sekali. Tak jarang obachan di sebelahnya ikut membantu,
dihapusnya cucuran keringat anak lelaki itu dengan kasih sayang, penuh
selaksa cinta yang terpancar jelas dari binar matanya. Seketika, mata
anak lelaki yang sering menatap kosong itu pun terlihat senang.
"Kono ko wa uchi no musuko desu," Dia adalah anak laki-laki saya. Katanya terdengar jelas dan bangga, seakan tahu pertanyaan yang menyergap di benakku.
Aku hanya tersenyum, menganggukkan kepala dan tak berkata apa-apa.
Seiring langkah mereka yang semakin menjauh, kutatap kepergian obachan
dan anak lelaki yang berjalan goyah itu dengan perasaan berkecamuk
menjadi satu. Pikiranku lalu menerawang, menembus lorong ruang dan
waktu. Melayang, meninggalkan sosok tubuhku yang masih berdiri tak
bergeming, takjub dengan sebuah keajaiban cinta.
Cinta seorang ibunda kepada anak-anaknya memang membuat kita selalu
terpesona. Jikalau kasih seorang anak adalah sepanjang galah, kasih
ibunda tentu sepanjang jalan. Bahkan andaikan kasih anak itu sepanjang
jalan, maka kasih ibunda adalah sepanjang masa.
Obachan itu pasti tak pernah tahu bahwa ada surga di telapak kakinya,
sehingga ia merasa perlakuannya biasa-biasa saja. Namun bagiku, ia
adalah seorang wanita istimewa yang di sisinya selalu ada cinta, karena
amanah berupa seorang anak yang cacat mental hanya dianugerahkan kepada
wanita-wanita istimewa*.
Abu Aufa
MaPI, Juni 2006