Qi-de (Quran Digital)

Catatan No Comments »

Al_quran_digital

Fren…
Duitnya belum cukup nih buat beli Qi-De…
Banyak pengeluaran ga keduga bulan2 ini, lo tau sendiri kan…!
Tapi kita mesti maksain beli Qi-de fren… Soale perlu banget nih…

Yaah lo nanya lagi buat apa…!
Kita kan perlu buat murajaah sima’i… Salah satu caranya… ya sambil dengerin bacaannya Imam-imam Qiraah yang udah ga diragukan lagi bacaannye… Disamping nge-infaqin harta di jalan Allah… biar manfaat… and jadi amal jariah, amal yg ngalir terus gitoh fren….he-heh… Insya Allah, Amien…

Apa…? Imam Qiraah yang ane suka?
Ooo… Lo tau kan ane ampir suka semua; Al-Ghamidi, Al-Fasi, As-Shuraim, As-Sudais, Al-Mathrud… dan yang laennya.
But, lo tau juga kan jika ane lebih suka As-Suraim ma al-Ghamidi? Yo-i…. Karna pita suara ane yg dikit nge-bass… ekhm

Fren…
Duitnye cuma baru ada seperempat harga Qi-de…
But, karna kita perlu banget… ya harus cari alternatif lain… Apa ya…???
Lo ada ide ngga…?

ooow… ane ada nih, kita beli aja Mp4 yang 512 mega, lumayaaaan… isinya bisa masuk 10 Juz… kita beli aja CD Mp3 Al-Ghamidi ato As-Suraim terus copy-paste ke Mp4… Setuju kan? Mesti setuju lo fren, ya dikit2lah… ntar kalo yang 10 Juz udah apal, kita ganti ma 10 juz yang laen… gimana…? Bener juga lo fren, murajaah sima’i bisa terganggu juga atau minimalnya kurang efektif, tapi apa boleh buat, sebelum Qi-De kebeli, kita ambil alternatif ini…

Mudah-mudahan awal taon depan kita udah bisa beli Qi-de…
Dari dulu padahal…
Sejak Qi-de pertama muncul belon juga bisa beli… nasib….
Ngumpulin aja lagi…
Ato siapa tau ada rezeki turun dari langit….
Husss….
Jangan mimpi ya… usaha men… usaha…!

Iya deh, makasih udah denger keluhan ane… Lo emang sahabat terbaik…

Bye fren…

Wasalam…

Robi, Adikku yang lucu

Catatan No Comments »

Aku sudah cukup dewasa untuk mengatasi segala masalah yang menimpa, aku telah cukup banyak makan garam untuk menjaga segala tindak-tandukku, aku cukup ulet untuk mengerjakan segala sesuatu. Namun aku masih tetap kesulitan mencari kata yang tepat untuk menggambarkan isi hati. Tentang apa pun, tentang siapa pun. Kepada siapa aku harus belajar merangkai kata, membuat kumpulan huruf menjadi penuh makna.

Apa yang kurasakan bermula saat aku pulang dari sebuah kota nan dingin di timur Jawa Barat –Pangalengan– mengantarkan Ade, adikku kembali ke kota asalnya itu. Studi di kota kembang ini telah ia lalui, kini dia kuliah di kota kelahirannya itu. Tapi bukanlah Ade yang kupikirkan, yang terbayang di benakku adalah Robi adikku yang kecil, saat aku mengantar Ade pulang dia ikut menemani.

Walau Ibu dan Bapak Ade telah melarangku untuk langsung kembali ke Bandung malam itu, namun aku terpaksa pamit karena Robi ingin segera kembali ke kota kembang yang mulai mendapat tempat di hatinya. Di keremangan malam, mesin beroda dua terus kupacu, sementara Robi berada di belakangku.

Berbeda denganku, Robi… dia dilahirkan di Timur pulau Jawa, matanya yang besar dan indah selalu menaklukkan gejolak emosi yang kurasakan, senyum manisnya selalu menghempas gundah yang terpendam, keluguannya membuatku semakin menyayanginya melebihi rasa sayangku pada Ilasa, Ilasa… sosok makhluk lembut yang selalu menggoreskan luka di hati ini walau dia pernah kudambakan sebagai belahan jiwa yang selama ini kucari. Namun kini semuanya telah pudar seiring waktu dan belati kata dan laga yang selalu digoreskannya di hati.

Hampir setahun aku belum juga kembali ke Pangalengan untuk menjenguk Ade, Ibu, dan Bapak. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan baru sebagai penjaga sekaligus instruktur Lab Multi Media di tambah memberi les prifat ibu-ibu TK dengan mengajar Ilmu Nahwu, ngajar Ilmu Fiqh Terapan di Pesantren Ahad yang diselenggarakan IAPPI ’05, menjadi musa’id (guru Bantu) dengan mengajar Ulmul Quran di Pesantren dan jualan buku-buku Islam. Apalagi kini kegiatanku kembali bertambah, aku ikut pelatihan Jurnalistik di Icmi dan berhasil lolos seleksi Tahfiz Beasiswa di LTQ Jendela Hati, belum lagi orderan ketikan asatidz yang selalu menumpuk di meja komputerku.

Aku rindu Ade, Ibu, dan Bapak namun kerinduanku terobati dengan adanya Robi di sini. Aku sungguh menyayangi Robi melebihi rasa sayangku pada Ilasa. Robi telah menggantikan tempat Ilasa di hati ini, aku tahu Robi tidak menyadarinya tapi biarlah karena rasa sayangku ini tak memerlukan imbalan, karna rasa sayangku ini merupakan rasa cinta platonis-ku untuknya.

Aku terbaring sakit, setelah merasa sedikit baikan aku paksakan untuk terus bekerja. Banyaknya kegiatan dan masalah yang menjadi beban pikiran membuatku kembali terbaring. Saat itu tidak ada yang tahu kalau aku sakit, kecuali Robi.

Tidak terasa dia sudah kelas tiga sekarang. Aku teringat saat pertama dia menginjakkan kaki di sekolah ini, dia begitu lincah dan lucu… aah Robi. Dia memaksaku pergi ke dokter, aku paling malas ke dokter karena aku biasa mengobati sakitku dengan obat-obat warung dan itu terbukti manjur. Namun kali ini sakitku makin parah. Atas permintaan Robi aku terpaksa pergi ke dokter.

Aku mulai pulih, tapi aku masih manja pada Robi dengan minta dibelikan roti kesukaanku di Cake & Bakery shop Kartika Sari, namun yang datang malah roti dari toko sebelahnya, tapi karena Robi yang membelikan, roti itu tak jauh beda rasanya dengan roti buatan Kartika Sari, nikmat…

Liburan kemarin aku touring ke Pantai Pangandaran bersama Qashwa Motor Adventure Team. Kepenatan pikiran terobati dengan melihat kebesaran Allah di tepi pantai itu, aku teringat kisah Nabi Khidr yang memberi pelajaran pada Nabi Musa ketika seekor burung hinggap di perahu yang mereka tumpangi, burung itu meminum sedikit air dari lautan. Waktu itu Nabi Khidr menyatakan bahwa perbedaan ilmu Allah dan manusia seperti lautan dan air yang diminum burung itu. Ilmu Allah sebanyak air di lautan sementara ilmu manusia seperti air yang diminum burung itu. Masya Allah…! Namun mengapa manusia tetap saja menyombongkan diri?

Aku kembali dari Pangandaran dan mulai menghadapi berbagai kegiatan yang semakin bertambah dan menyita waktu. Aku tak ada waktu lagi untuk memberi perhatian lebih pada Robi. Dia mulai jauh dariku. Dua minggu sudah aku tak bertemu dengannya, sementara rasa rindu dan sayangku semakin bertambah… aku hampir melupakannya karena kesibukkan ini semakin bertambah.

Road To Pangandaran (Part III)

Perjalanan No Comments »

Kami bersyukur selamat dari gempa yang berkekuatan 6.8 skala ritcher dan gelombang pasang yang menghantam pesisir pantai Pangandaran pada hari senin, 24/07 yang lalu. Kurang lebih seminggu sebelum musibah itu terjadi kami berada di pantai tersebut mengisi masa-masa liburan.

Tentu saja musibah itu membuat kami cukup shock, terlebih orang tua dan orang-orang dekat yang menyayangi kami. Apalagi saat melihat di media elektronik penginapan tempat kami istirahat hancur berserakan diterjang ombak. Dan pantaslah kami bersyukur pada Allah, bahwa kami masih diberi kesempatan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya amal untuk bekal di akhirat kelak.

Atas nama Qashwa Adventure Team kami mengucapkan belasungkawa, innalillahi wainna ilahi raajiun atas musibah yang menimpa saudara-saudara kami di Cilacap, Pangandaran dan sekitarnya. Semoga musibah ini menjadi tadzkirah, peringatan bagi kita semua agar kita senantiasa lebih mendekatkan diri kepada Allah dan dijauhkan dari hal-hal yang bersifat syirik. Amin.

Jalan Jalan ke Darul Fikr

Perjalanan No Comments »

Fren…! Sore itu aku dan seorang rekan tiba di Toko Kitab Darul Fikr untuk membeli dan melihat kitab-kitab keluaran terbaru. Lemari pajangan menarik perhatianku untuk melihat-lihat kitab apa saja yang dipajang. Setelah bersalaman dan menjawab salam kami, Akhi Yanto, penjaga sekaligus pemilik toko itu dengan aksen Yogyanya mempersilahkan kami untuk melihat-lihat lemari pajangan yang berisi kitab-kitab salaf maupun kontemporer.

Sementara rekanku melihat-lihat kitab, aku melangkah menuju meja kasir tempat akhi Yanto duduk menunggu. Pria kelahiran Yogya ini sudah tidak asing lagi padaku karena aku dan rekanku ini salah satu langganan kitab di tokonya. Setelah bertanya kabar dan saling sapa, aku sedikit berbincang dengannya mengenai kota penerbit dengan suplai terbanyak toko ini, Beirut-Libanon. Dengan nada sedih, bapak dari tiga orang anak itu terdengar lirih mengatakan bahwa pagi tadi ia mendapat informasi dari temannya di Beirut, salah satu penerbit di negara libanon yang banyak mensuplai kitab ke tokonya luluh lantak terkena serangan bom udara tentara Israîl, dan ia mengatakan selama enam bulan ke depan suplai kitab dari Beirut tidak bisa masuk Indonesia.

Masya Allah, perang memang hanya menyisakan kerusakan dan kesedihan. Korban bukan hanya dari orang-orang militer maupun fasilitas mereka tapi masyarakat sipil dan fasilitasnya pun menjadi korban.

Audisi Tahfiz Beasiswa (LTQ JH - Part II)

Catatan No Comments »

Al-Hafidz Ust Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc tengah memberikan ceramah berupa nasihat pada para calon hufaz ketika aku dan adikku tiba di masjid At-Taqwa tempat kuliah perdana Tahfiz Beasiswa digelar. Setelah forum Tanya-jawab giliran Ust Abu Rabban, Lci memberikan tausiyah mengenai tahsin dan panduan praktis bagi para calon hufaz.

Saat yang ditunggu pun tiba, pengumuman kelulusan calon peserta tahfiz LTQ Jendela Hati dipandu oleh Al-Hafidz Ust Agus Subagio, namaku berada diurutan ke sembilan dari sembilan belas ikhwan yang diterima menjadi academia tahfiz sementara adikku diurutan ke sebelas. Al-Hamdulillah wa innalillah aku lulus menjadi peserta tahfiz, beban berat mulai kurasa, aku mesti pintar-pintar menjaga perilaku keseharianku, menjaga diri dari kemaksiyatan walau sekecil apapun. Semoga Allah memberi kemudahan dan semoga hati ini senantiasa ditetapkan dalam agama-Nya.

Bulan Agustus depan kuliah tahfiz akan dimulai dan semester pertama empat Juz merupakan target awal bagi para mahasiswa Thfiz LTQ Jendela Hati.

Do’akan aku ya fren…


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in