Kepastianlah Yang Kutunggu

Puisi dan Lagu No Comments »

KEPASTIANLAH YANG
KUTUNGGU

Song: Armand, Budjana, Hendy, Thomas
Lyrics: Armand Maulana

Intro (Am-F-C-G)

Am…………F……………..C……….G
Di bawah sinar bulan purnama kumerenung

Am…………F………..C…….G
Satu Kisah yang kujalani bersamamu

Am…………F……………..C……….G
* Keindahan dalam bercinta tidaklah mudah

Am………..…F……………..C……….G
Cinta
Membutuhkan Ketulusan dan pengorbanan

F…………………Dm
# Satu keagungan cinta tlah terpadamkan

F…………………Dm
Mengapa
semua ini harus terjadi


Chorus :

Am…………F……………..C……………….G
Tanya hatimu benarkah dirimu masih mencintai aku

Am…………F………………………..C……………..…….G
Bukankah dahulu kaulah yang menunggu pernyataan
cinta dariku

Am…………F………………..C…………………….G
Tanya hasratmu benarkah dirimu masih membutuhkan
aku

Am…………F……………..C……………….G
Bila tlah berubah bicara padaku kepastianlah yang
kutunggu


Back to : *, # & Chorus

Interlude

Chorus

Sobat lama (Mau Nikah)

Catatan 1 Comment »

Pagi buta seorang sobat lama datang berkunjung…

Obrolan bersamanya selalu membuatku bersemangat.
Segelas kopi kental kesukaannya kusajikan.
Sedang untukku segelas kopi mocca.

Arul sobatku, kini dia seorang aktivis di sebuah organisasi Islam.
Namun, gaya gaulnya masih seperti dulu.
“Ente pengikut UJ ya Rul..?” Candaku.
“Siapa? UJ…? Ustadz Jefri…?” Arul malah balik nanya dengan senyumnya yang khas.
“Ya iyalah… Siapa lagi?
“Kenapa emang…? Apa karena tampang ane yg ganteng mirip UJ…? Tawanya meledak.

Setelah panjang lebar kami ngobrol ngalor-ngidul.
Akhirnya dia mulai pembahasan dengan roman muka yg serius…

“Ane mo nikah Kim…!” Kata Arul pelan.
“Waah, kalo gitu sama dong kita bro… ane juga mo nikah nih…” Kataku
“….. Ah ente Kim… Ane serius nih…!” Roman mukanya terlihat begitu… iiiihhhh
“Ok deh… Ente mo nikah, terus apa masalahnya? ”
“Penghasilan ane belum cukup Kim…!”
“Laa iya ente nih gimana? ente kan aktivis, masa… masalah ginian aja lo khawatir? Emang udah ga percaya ma 4JJI…?”
“Bukan gitu Kim… Emang sih… Calonku ga mempermasalahkan hal itu…!”
“Tuh kan… Apalagi kalo gitu…. Nikah aja, biar ane yang nganter… Masalah rizki, Insya Allah nyusul…!” kataku mantab…

“Masalahnya bukan cuman itu Kim….” Mata Arul sambil melihat-lihat ke sekeliling arah.
“…. Mmmmmhh, Masalahnya Kim, ane… ane ga punya duit buat nikah…” Suaranya pelan dan mukanya terlihat merah.
“Emang berapa yang ente butuhin Rul…?”
“Untuk biaya segalanya sih termasuk walimah, karena ane ma calon istri udah musyawarah maunya yg sederhana aja, ane butuh duit 5 juta aja Kim… Itu udah termasuk Mas Kawin!”
“Ente punya tabungan Rul?”
“Ya itu dia… sedikitpun ga ada…”

“Rul, ane ga becanda nih tapi…. Emang kita dari dulu sobat, satu hati, satu rasa… Waktu kita di pondok dulu, susah senang kita selalu bersama, makan ga makan kita bersama… Dapat hukuman bersama… nyari akhwat juga sama tipenya… Hati dan nasib kita selalu sama Rul….”

“Emang ente juga mo nikah Kim…??? Terus masalah ente apa…???

Aku diam….. dan diamku membuat Arul mengerti…

Aku dan Arul terdiam termenung memperhatikan lalu-lalang kesibukkan pagi di luar pagar.

* * *

Bro-bro…. Kita emang selalu senasib
Ugh…

Diantara Dua Jalan

Catatan No Comments »

Kepala gi pusing nih…..
Tapi, bukan obat sakit kepala yg kuperlukan.

* * *

Ujian itu datang ketika hati tengah tenang.
Ketika jalan tak ada bahkan tertutup… Aku berdiri dengan sebuah keresahan.
Lantas ketika satu jalan terbuka… Dan kaki pun akan segera melangkah.
Datang satu jalan lain terbuka.

Kedua jalan itu sama-sama lurus, indah, tak berkelok, dan tak berlubang…
Diantara dua jalan… Mana yg mesti kutempuh?

Kadang Nurani ikut menyela. Hati merasa iba.
Namun Akal serta logika terus menelaah dan berpikir.
mmmmhhh…. Nafsu…? Dia hanya tertawa…..

Diantara dua jalan… Mana yg mesti kutempuh?

Nurani, Hati, Akal, Logika, dan Nafsu masih terpaku…!
Dan kepalaku semakin pusing…

Diantara dua jalan… Mana yg mesti kutempuh?

Allahuma Astakhiruka Bi-ilmika…..

Duka

Catatan No Comments »

Sore itu berita duka melengkapi kesedihanku. Al-Ustadz Abdul Qodir yang biasa disapa Ustadz Abqo telah dipanggil kehadirat Allah Swt di RS. Al-Islam Bandung pukul 17.00 dan sore itu juga jenazah dibawa ke rumah duka di Rancaekek. Ustadz Abqo, sosok murabbi, ustadz, guru, bapak yang semangatnya patut ditiru.

Saat di kelas dulu, aku merasa menjadi murid kesayangan beliau, padahal beliau tak pernah pilih kasih pada murid-muridnya. Kedekatanku pada beliau kurasakan begitu kuat saat beliau selalu memberikan semangat, petuah, dan nasihat di luar kelas secara pribadi. Saat masih duduk di kelas 2 Mu’allimien, beliau mengajakku ikut liqo bahtsul kutub mubahatsah tafsier di kediaman salah satu murid beliau di Leuwi Panjang.

Aku begitu terkesan, ketika bertemu dengan putra-putri beliau, seperti Ibu Nur dan Ust Dadang, keduanya pun ustadz2ku. Ternyata beliau sering menceritakan dan menyanjungku di depan keluarganya. “Hakim tuh sering bapak ceritain di rumah, murid paling cerdas di kelas, paling sopan, paling rapih…?.” Aku selalu jadi risi dibuatnya, malu. Padahal aku bukanlah yang terpandai di kelas, masih banyak teman-teman lain yang lebih cerdas dan pintar di kelas. Aku anggap sanjungan itu sebagai motivasi untukku agar lebih keras belajar pada waktu itu.

Selesai maghrib aku berangkat ke kediaman almarhum di Rancaekek. Saat tiba ratusan ikhwan fillah telah berkumpul disana. Ruangan tempat beliau dibaringkan hanya berukuran 6×6 meter persegi dan ini membuat antrian panjang di teras rumah almarhum menunggu antrian untuk menyolatkan beliau. Aku sendiri dapat bagian “kloter” ke-7 dengan jumlah jamaah setiap sholat berkisar 30-40 orang. Malam menjelang antrian ikhwah yang mau menyolatkan masih tampak terlihat. Aku pulang setelah tahu bahwa beliau akan dimakamkan keesokan paginya.

Jam menunjukkan jam 06.30, kijang pak haji menungguku di luar komplek pesantren. Aku bergegas karena tak mau ketinggalan saat prsosesi pemakaman Al-Ustadz. Sekitar jam 08.00 kami tiba di rumah duka. Jumlah jamaah yang hadir melebihi jumlah kemarin malam. Banyak teman-teman seangkatan yang hadir di sana. Ustadz-ustadz senior maupun ustadz2 muda juga terlihat. Air mata ini tak sanggup tertahan saat Ustadz Rustaman salah satu ustadz paling senior menangis dan berkata, “kita bukan hanya kehilangan guru tapi juga kehilangan sosok bapak….”

Aku tak tahan mendengar isakan itu dan air mata ini pun tak mampu kutahan. Kulangkahkan kaki menjauhi rumah duka itu menuju jalan disebelah utara. Tanpa kuduga ternyata jenazah mulai ditandu menuju tempatku berdiri. Aku bergegas berjalan dipinggir keranda itu. Ada enam sampai delapan orang yang mengusungnya termasuk Ustadz Igi salah satu ustadz senior. Aku tak kuasa ketika melihat Ustadz Igi tergopoh-gopoh menandu keranda itu, aku menawarkan untuk mengganti posisi beiau. beliau pun mengizinkan dan mulailah aku ikut menandu keranda itu di bagian sebelah kanan. Saat menandu, terbayang wajah teman-temanku, ustadz-ustadz muda, ratusan murid almarhum dibelakang sana sangat berharap untuk dapat ikut menandu keranda jenazah beliau, namun hanya aku yang mempunyai kesempatan untuk itu.

Secara sederhana prosesi pemakaman pun dimulai, para ikhwan fillah diminta mendo’akan almarhum sesuai dengan sabda Rasulullah Saw sebelum meninggalkan pemakaman. Berdo’a dalam hati masing-masing.

Allahumaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu’anhu waakrim nuzuulahu wawasi’ madkhalahu…

Goresan Hati

Puisi dan Lagu 1 Comment »

Dinginnya udara perbukitan mengawali nyanyian hati.
Ada keindahan yang mulai menyapa di sini (sambil nunjuk ke hati).
Anugerah-Nya menghadirkan dia di alam nyata.
Di perbukitan sejuk nan dingin, di atas hamparan hijau pepohonan.

Azam pun mulai terpaku.
Dengan bekal tawakkal tentu saja.
Dan aku yakin dengan janji ilahi.
Bahwa semua yang terjadi atas izin-Nya.

Sebuah pertanyaan menghentak lamunan.
“Karena apa aku memilih?”
Aku sendiri tak yakin karena apa?
Hanya saja aku yakin, rasa itu akan hadir bersama waktu.
Jika tidak hari ini, mungkin nanti setelah berada dalam sunnahnya.

Namun,
Waktu yang ada membuatku tak mampu untuk memutuskan kapan.
Bahwa kenyataan, aku harus menjaga perasaan saudariku.
Aku tak pernah memutuskan untuk meninggalkan janji.
Dan berpaling dari azam yang telah terbangun rapi.
Hanya dua pilihan yang kusodorkan, menunggu atau berlalu?
Qurrata ‘aini pun tersenyum, menangis… dan berlalu…

Harapan yang tertanam adalah nyata.
Tak pernah terpikir untuk menyakiti perasaan seseorang.
Karena saat kuungkapkan kesungguhan adalah itu benar kesungguhan.
Yang datang dari lubuk hati meski tak begitu dalam.
Meskipun demikian, aku tetap menyimpan kerinduan
Meskipun demikian, aku tetap merasa bersalah…

Semoga kau dapatkan yang selama ini kau cari.
Semoga kau temukan yang selama ini kau nanti.
Kalaulah 4JJI menghendaki, tentu kita kan bersama di dunia.
Kalaupun tidak, semoga kita dapat bertemu di surga-Nya.

Bandung, akhir April 2006.


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in