Akhir Januari Yang Indah

Catatan No Comments »

Begitulah hidup, tak pernah bisa terduga. Rasanya baru kemarin aku menangis, kini aku mulai tersenyum, bahkan aku dipaksa tertawa meski tanpa suara. Aaahhh, kawan! Aku lebih suka senyum ketimbang tawa. Namun, aku masih bingung kawan, dan tinggal dua pilihan sekarang. Pilihan ketiga telah terbuang hilang. Kawan, pilihan ini menentukan masa depanku, harapanku, cita-citaku, doa mereka yang peduli dan sayang padaku. Dalam kebahagiaanku aku bingung kawan. Semoga engkau tak ikut bingung.

Di akhir Januari yang indah ini aku tebarkan senyum, untukmu kawan dan untuk kebingungan.

Tiga Tahun Yang Lalu (Pekan Amal ‘03)

Catatan No Comments »

Pekan Amal 2003,-

Hipa_03
Tak mampu menundukkan pandangan ini dari sorot mata sayu nan indah itu.
Lentik bulu matanya, begitu… Ya Allah ya Rabb… Ampunilah kelemahan hamba ini…!

Dia terlihat lelah, mungkin karena tugasnya sebagai panitia Pekan Amal ‘03 menyita seluruh tenaga dan pikirannya. Namun dia tetap tersenyum, terlihat penuh semangat.

Ya Rabb… begitu indahnya ciptaan-Mu itu.
Tak sedetik pun kulepaskan pandangan ini dari sosok indah itu.
Ya Rabb! Jilbabnya itu lho, lebar!, menutup seluruh auratnya. Tapi dia tetap modis dan anggun.
Cara dia berjalan, tersenyum, menoleh, menyapa, tertawa. Aah yaa Rabb!

“Hei… Gadla bashar!!!” Nuraniku membentak. Tapi aku tak bisa.
Tolonglah Nurani, untuk saat ini saja. Lagi pula pandangan ini tanpa syahwat, hanya sebatas kekaguman saja, nafsuku menghelah. Dan biar, biar saja, biar dia tahu bahwa saat ini ada yang memperhatikannya.

* * *

Hari ini, tiga tahun yang lalu, matanya masih tetap memancarkan keindahan.
Dan hari ini, seperti halnya tiga tahun yang lalu, aku hanya bisa mengaguminya tanpa berani mengatakan… bahwa, kamu sungguh indah…!

Tahun Baru Hijriyyah

Resonansi No Comments »

Kembang_api
Satu Muharram, tahun baru Hijriyyah. Haruskah kita rayakan? Tidak berbeda dengan perayaan tahun baru Masehi? Kalau begitu apa perbedaan kita dengan mereka? Apa perbedaan Islam dengan lainnya. Dengan dalih bahwa kita merayakannya tidak secara ma’shiyat, tapi dengan niat yang tulus dan diiringi rasa syukur, sebagai momentum perbaikin diri, lalu dihiasi dengan praktek ibadah, muhasabah? dzikir bersama?

Tentu saja semua itu tidak ada salahnya, tapi kalau sudah menyangkut ibadah! Apalagi jika dikaitkan dengan hari atau perayaan tertentu. Apa yang akan terjadi? Bukankah itu sesuatu yang diada-adakan? Sesuatu yang baru? Sesuatu yang tidak ada contohnya sama sekali? Mengapa rasa syukur hanya dan harus pada bulan itu saja? Mengapa perbaikan diri mesti terpaku pada satu hari saja?

Hijriyyah…! Muharram, bulan sebagai patokan tahun baru yang diambil dari perjalanan Hijrah Nabi menuju tanah harapan, menuju segala perbaikan. Perbaikan dan ketentraman dalam ibadah, perbaikan diri dan keluarga, perbaikan tatanan kehidupan social, perbaikan dari segala sesuatu yang buruk menjadi baik…!

Hijriyyah…! Perintah hijrah belumlah tertutup, belumlah tuntas dan berakhir ketika Nabi melakukan hijrah dari Makkah menuju Madinnah saja. Sampai hari ini, sampai detik ini perintah itu masih tetap berlaku dan mestilah kita turut.

Hijriyyah…! Sungguh luas maknanya. Tidak sebatas perayaan yang bersifat hura-hura. Tidak sebatas praktek ritual yang jelas tidak berdasar. Tidak sebatas momentum patokan perbaikan diri. Namun, disana terdapat nilai yang patut kita sadari.

Hijriyyah…! Sejauh mana kita telah berhijrah?
Sudahkah kita berhijrah dari perilaku kita yang buruk?
Sudahkah kita berhijrah dari shalat kita yang selalu malas?
Sudahkah kita berhijrah dari zakat, infaq, dan shadaqah kita yang kurang?
Sudahkah kita berhijrah dari sifat bakhil dan sukhun?
Sudahkah kita berhijrah dari sifat acuh menjadi peduli?
Sudahkah kita berhijrah dari kebodohan menjadi berilmu?
Sudahkah kita berhijrah?

Sudahkah kamu sendiri berhijrah Hakim???

Kamus kecil:
Ma’shiyat: Perbuatan yang melanggar perintah Allah swt.
Muhasabah: Dari kata Hasiba-Yahsabu-Hisaaban, artinya berhitung. Menghitung diri akan amal dan dosa.
Dzikir: Dari kata Dzakara-Yadzkuru-Dzikran, artunya mengingat. Mengingat Allah swt, dengan melafalkan tahlil, tahmid, istighfar dan kalimat-kalimat thoyyibah lainnya.
Muharram: Dari kata Harrama-Yuharrimu artinya yang dihormati. Bulan pertama dalam penanggalan Hijriyyah.
Hijrah: Perjalanan Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah. Berpindah tempat, berpindah dari segala sesuatu yang buruk menuju kebaikan.
Bakhil: Sifat kikir (tidak mau mengeluarkan harta pribadi untuk kepentingan social maupun agama)
Sukhun: Sifat kikir (tidak mau mengeluarkan harta lembaga -yang jelas bukan hak miliknya- untuk kepentingan social dan agama) sukhun lebih berbahaya dari bakhil.

Untuk Adikku - Pacaran Setelah Nikah

Catatan No Comments »

Maghrib Ahad, 22 Januari 2006

Hampir lupa acara yang cukup penting bagi kamu itu…!
Maklum kerjaan kantor cukup menyita pikiran dan waktu
Maafkan kakakmu ini…

Namun segalanya sudah pasti sekarang…!
Dia ya calon suami kelak… dik, moga pilihanmu sudah tepat…!
Tapi Ingat “Khitbah” tidak menghalalkan kamu untuk selalu bersama-sama
Sebatas “lamaran” bukan berarti kamu sudah halal untuk pergi keluar
Apalagi untuk saling bersentuhan tangan, terlebih lagi jauh dari itu… Naudzubillah…!

Nanti… setelah kamu sah di depan penghulu, setelah walimatul ursy
baru segala yang haram menjadi halal

Tidak usah kamu pikirkan kakakmu ini
Insya Allah, Aa segera menyusul….!
Hanya saja untuk saat ini belum ada yang tepat

Kamu tau sendiri, A hqm tidak mau pacaran sebelum menikah
Haram? Bukannya a hqm menganggap haram, tapi kamu tau sendiri kan…?
Hal itu selalu mendekati zina, setidaknya zina hati, sedang kita tahu, Allah melarang kita untuk mendekati perbuatan nista itu….!

A hqm belum menemukan seorang akhwat yang bisa mengerti hal itu
Atau mungkin tidak ada…? Tapi a yakin pasti masih ada, Insya Allah…!

Pacaran setelah nikah….. hmmhmm Yaa Allah… yaa Rabb….!

Adikku Nur, selamat atas khitbahnya
Moga segalanya dilancarkan Allah swt. hingga ke pelamin kelak, Amien!


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in