Kau Bilang Kita Harus Kembali Ke Alam
Cerita Pendek, Fiksi Reality 1 Comment »
Dear bro…!
Email yang kau kirim kemarin membuatku teringat kembali masa-masa indah itu; sesaat sebelum adzan maghrib tiba, kita menelusuri pematang sawah milik haji makmur menuju surau di bukit sebelah, tujuan kita tidak lain hanya untuk mengisi kekosongan ruhani. Tangkai pohon buah gedang yang telah diisi minyak tanah dan sumbu kompor merupakan pelita kita di tengah koarnya konser bersama kolaborasi antara jangkrik-jangkrik dan katak-katak sawah. Kau tahu kita punya senter baterei tapi kau bilang kita harus kembali ke alam.
Bro, bagaimana kepalamu? Sebelas tahun yang lalu kau terjatuh dari pohon kelapa milik pak haji Sukma. Dadamu terkelupas dan berdarah saat kau mencoba menahan gaya gravitasi bumi. Namun kuatnya gaya itu membuat kau terhempas diketinggian 2 meter, cukup tinggi untuk ukuran kita pada waktu itu. Punggung dan kepala bagian belakangmu yang pertama menyapa bumi. Beberapa menit kau tak sadarkan diri, aku panik namun syukur kau kembali membuka matamu. Aku bermaksud mengambil kotak P3K dirumahku namun kau malah menyuruhku mengambil kotoran sapi kering untuk menghilangkan desinfektan dan mencegah infeksi luka, dan lagi kau bilang, kita harus kembali ke alam.
Saat bulan purnama itu… kamu masih ingat..? (for edit)
Musim perburuan itu aku kembali bro….. (for edit)
Aku harus kembali ke kota Bro… (for edit)
Aku dengar kau meneruskan study ke fakultas kehutanan…. (for edit)
Kau tahu, dari dulu aku suka dunia jurnalistik, aku banyak mengikuti seminar-seminar jurnalistik, dan mengkhususkan diriku untuk terlibat dalam dunia itu dan akhirnya aku menjadi seperti yang kucita-citakan dulu, meskipun dalam skala kecil dibandingkan dengan kau Bro, kau telah sukses sekarang, kau kini hidup senang, kau bagian dari para eksekutif itu, bahkan mungkin kau pimpinan mereka.
Bro, kau liat berita kemarin? Banjir menghempaskan tujuh desa di tiga kecamatan, kayu-kayu gelondongan akibat ilegallogging menghancurkan dusun-dusun mereka yang terbawa air. Empat ratus jiwa melayang Bro! orangtua, pemuda, remaja, bahkan anak-anak, mereka semua terseret banjir dan mati. Aku segera tiba di lokasi kejadian untuk meliput berita yang tersisa dan aku tak mampu menahan pilu saat jeritan seorang ibu yang menyaksikan tubuh anaknya yang telah membiru. Seorang bocah kecil berusia enam tahun menatap kosong ke arah rumahnya yang telah ambruk; bapak, ibu, kakak, dan adiknya yang baru berusia empat bulan hanyut terbawa banjir dan mati, dia kini sebatang kara Bro.
Kenapa? Kenapa Bro? Kenapa kau berikan izin kepada mereka melakukan penebangan hutan? Kenapa kau tega bro? sedang kau tahu bagaimana akibatnya! Kau yang mempunyai kekuasaan untuk melarang mereka, tapi kenapa kau biarkan? katamu kita harus kembali ke alam, apakah yang seperti ini yang dinamakan kembali ke alam?!?
21 Oktober 2005
Untuk banjir yang masih menggenangi



